udara segar pedesaan

Diserang Lebah saat Memanen Kelapa

Di pagi hari waktu menunjukkan pukul 07.00 wib, kami bersiap menuju ladang untuk memanen kelapa dan juga kopi coklat atau kakao, umurku saat itu masih 6 tahun, duduk di taman kanak-kanak. Jarak rumahku dengan ladang sekitar 1 km, kami berangkat dengan menggunakan sepeda.

Saat itu aku di bonceng ibuku, untuk sampai di ladang membutuhkan waktu 20 menit, karena waktu masih pagi jadi udara sangat sejuk, selain masih pagi karena memang di tempatku masih seperti hutan, banyak pepohonan yang lebat dan juga jarak rumah satu dengan yang lainnya masih jauh-jauh.

menuju ladang
jijihans.com

Jadi terjadang lahan 50 x 50 meter hanya di tempati satu bagunan saja, sisanya di gunakan untuk menanam sayuran atau pepohonan yang bisa di manfaatkan. Banyak burung-burung berkicau dan berterbangan setiap paginya. Itu membuktikan bahwa lingkungan di desaku masih sangat terjaga.

Menuju Ladang

udara segar pedesaan
gambarwallpaper.fondecranhd.net

Jadi saat menuju ke ladang aku sangat menikmati udara yang segar dan juga suara-suara burung berkicau yang menandakan kebahagiaan karena hidup di desaku, demikian juga denganku, aku bahagia terlahir di desa itu. Tak lama kamipun sampai di ladang yang menjadi tempat tujuan.

Kami menyandarkan sepeda di bawah pohon kopi coklat, dan beristirahat sebentar sebelum mulai memanen kopi coklat. Tak lama kemudian bapaku tiba bersama kakakku untuk memanen kelapa.

Bersiap-siap memanen

persiapan memanen kelapa
id.aliexpress.com

Sesampainya di ladang bapakku langsung bersiap untuk memanen kelapa, ia mengeluarkan sabit yang akan di pakai untuk memanen kelapa. Sabitnya terlihat lancip dan juga tajam, wajar saja karena memang sering digunakan dan diasah.

Dan untuk ibu juga sudah menyiapkan alat untuk memanen kopi coklat, jadi ibu dan bapak mempunyai tugas masing-masing, aku dan kakaku hanya membantu-bantu saja.

Kemudian aku membantu ibuku mencari kayu yang panjang untuk disambung dengan sabit yang gunanya untuk memanen buah kopi yang tinggi. Tinggi dari pohon kopi bisa sampai 5-6 meter, karena kopi di ladang kami memang sudah tua, dan sudah waktunya untuk di regenerasi ulang.

Memanen Kelapa

bersiap memanen kelapa
pixabay.com

Bapakku pun bersiap memanjat kelapa untuk mengambil buahnya, sekitar 15 pohon kelapa yang akan siap di panen, dan di 15 kelapa tersebut ada beberapa yang harus diwaspadai karena ada sarang lebahnya.

Satu persatu kelapa jatuh dari pohonnya, terlihat mudah sekali menjatuhkan pohon kelapa, padahal di perlukan tenaga untuk memanennya. Karena untuk memanennya di perlukan keberanian dan juga tenaga untuk memanjat pohon yang tingginya sekitar 10 meter dari permukaan tanah.

Setelah buahnya jatuh semua dari pohon kelapa barulah kakakku mengumpulkan kelapa tadi ke satu tempat agar mudah untuk mebawa pulangnya.

Sedangkan denganku, aku masih membantu ibuku memanen kopi, jadi kopi yang di panen adalah kopi yang berwarna kuning, jika berwarna kuning berarti kopi sudah siap di panen, ada juga kopi berwarna hijau tapi sudah bisa di panen karena sudah tua.

Tapi sedikit sulit membedakan kopi hijau yang sudah tua dengan kopi hijau yang masih muda, karena kita harus memukulnya dan akan keluar suara yang berbeda dari kedua kopi tersebut. Aku pun masih sering salah memilih kopi yang seperti itu, jadi aku hanya memanen kopi yang sudah pasti saja yaitu yang berwarna kuning.

Dikeroyok Lebah

turun dari pohon kelapa
imaginative-girl.deviantart.com

Karena banyaknya kelapa yang di panen, kakakku memanggilku untuk membantunya mengumpulkan kelapa, tapi bapakku belum menyelesaikannya jadi kami menunggu  di selesaikan agar saat mengumpulkan tidak kejatuhan kelapa, kami menunggu di dekat pohon yang sedang dipanen.

Kebetulan pohon yang sedang di panen itu ada sarang lebah yang besar, jadi sarangnya itu berada di dalam pohon, setiap pohon kelapa yang ada sarang lebah pasti berlubang.

Suatu ketika bapakku menjatuhkan kelapa dari pohon yang ada lebahnya, karena pohonnya tidak lurus jadi pohonnya sedikit miring, kelapa yang jatuh tadi mengenai sarangnya, dan pada saat itu aku berada di dekat sarang itu.

dikejar lebah
suaranews.com

Seketika itu aku di serang puluhan lebah, aku berlari sekencang-kencangnya, bapakku yang masih berada di atas pohon langsung turun dengan cepat untuk membantu mengusir lebah. Bapaku mengejarku dan mengusir lebah dengan daun kopi yang di kipas-kipaskan kepadaku.

Karena aku berlari semakin jauh dan di bantu bapakku mengusir lebah, jadi lebah itu sudah tidak menyerangku lagi. Kemudian ibuku menyusulku dan membawaku ke tempat saudara, disana kita minta minyak tanah untuk mengobatiku dari sengatan lebah.

Ternyata banyak sengatan lebah yang menempel di tubuhku, ada puluhan yang harus di cabut dari badanku.

Berobat ke Dokter

sakit demam
balihealthdigest.com

Keesokan harinya aku sakit, aku pun berobat ke dokter untuk menyembuhkan demamku, demam tersebut timbul akibat serangan dari lebah yang menyarangkan puluhan sengatan di badanku ini.

 

Leave a Comment