Latar Belakang Sejarah dan Isi Perjanjian Bongaya pada Tahun 1667

latar belakang perjanjian bongaya

Isi Perjanjian Bongaya – Pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai pelajaran sejarah, materinya yaitu Isi Perjanjian Bongaya. Pasti di SMP dulu sudah pernah membahas ini. Untuk mengingat kembali pelajaran ini, yuk kita simak di bawah ini.

ilustrasi perjanjian bongaya
buihkata.blogspot.com

Perjanjian bongaya merupakan suatu perjanjian yang isinya bertujuan untuk mengatur hubungan antara Kerajaan Gowa dengan VOC Belanda.

Sebelum perjanjian bonganya itu dibuat, Makassar sedang dalam perselisihan antara Arung Palakka, yang merupakan seorang pangeran dari Kerajaan Bone atau juga Suku Bugis dengan Kerajaan Makassar atau Gowa yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hassanudin.

Dalam peperangan besar yang besar itu antara Sultan Hasanudin dengan Aru Palaka yang di bantu oleh tentara VOC dengan pimpinannya yaitu Kapten Cornelis Speelman.

Dan hasilnya Sultan Hasanudin mengalami kekalahan kemudian dipaksa untuk menandatangani sebuah perjanjian perdamaian yang berada di Desa Bongaya pada tahun 1667. Dari situlah perjanjian ini disebut dengan Perjanjian Bongaya.

Sejarah Singkat Perjanjian Bongaya

sejarah singkat perjanjian bogaya
daengrahim.wordpress,com

Hubungan ini bersifat hanya menguntungkan pihak Belanda yang merupakan sebagai pembuat perjanjian, sedangkan dari kerajaan Gowa sebdiri sangat dirugikan. Tentara VOC Belanda pada saat itu di pimpinan oleh Cornelis Speelman dan dibantu dengan sekutunya Aru Palaka.

Yang kemudian berhasil membuat Kerajaan Gowa diambang kekalahan perang. Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh VOC Belanda untuk memaksa pihak Kerajaan Gowa ke meja perundingan yang sekaligus menjadi cikal bakal lahirnya perjanjian Bongaya.

Perjanjian ini terkesan dipaksakan Belanda terhadap Kerajaan Gowa, dan perjanjian itu benar-benar merugikan Kerajaan Gowa serta membawa keuntungan yang sangat besar bagi pihak Belanda.

Perjanjian itu disebut dengan perjanjian bongaya karena merujuk pada tempat terjadinya perjanjian itu sendiri, yaitu bertempat di desa Bongaya di tanggal 18 November 1667.

Latar Belakang Perjanjian Bongaya

latar belakang perjanjian bongaya
dribbble.com

Peperangan besar yang merupakan latar belakang dari lahirnya perjanjian yang disebut dengan Perjanjian Bongaya. Perlawanan Kerajaan Gowa untuk menghadapi Belanda telah mencapai puncaknya saat masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, yang merupakan putra dari Sultan Muhammad Said dan cucu Sultan Alaudin tahun 1653-1669.

Selain harus menghadapi Belanda, Sultan Hasanuddin juga menghadapi perlawanan dari Aru Palaka yang merupakan Soppeng-Bone pada tahun 1660.

Saat itu Sultan Hasanuddin terdesasaat k menghadapi perlawanan yang dibantu oleh Belanda. Dengan semangatnya yang menyala-nyala sehingga Sultab Hasanuddin dijuluki dengan Ayam Jantan dari Timur, kemudian beliau memimpin rakyatnya untuk terus benjuang dan tidak mengenal menyerah.

perlawanan sultan hasanuddin
kep2-salmawijaya.blogspot.co.id

Peperangan tersebut berlangsung dengan sengit kurang lebih selama satu tahun, terutama perang yang berada di lautan. Dalam suatu kesempatan, pasukan dari Kerajaan Gowa tidak mampu lagi untuk menghadapi pasukan Belanda yang dilengkapi dengan berbagai senjata mutakhir dan adanya tambahan pasukan dari Batavia.

Kemudian dalam upaya untuk mempersiapkan pasukan serta strategi perang, Sultan Hasanuddin terpaksa harus menandatangani perjanjian yang berada di daerah Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Isi Perjanjian Bongaya

Isi dari perjanjian Bongaya, diantaranya adalah Sultan Hasanuddin yang saat itu sebagai Raja Gowa mengakui pemerintahan serta kekuasaan Belanda (VOC) di Makassar.

Kerajaan Gowa harus menyerahkan Benteng yanng berada di Ujungpandang (kemudian menjadi Fort Rotterdam) kepada Belanda. Berikut ini merupakan perjanjian selengkapnya dari seluruh isi dari Perjanjian Bongaya:

  1. Makassar harus mengakui monopoli VOC
  2. Wilayah Makassar dipersempit hingga tinggal hanya Gowa saja.
  3. Makassar harus membayar kerugian dari perang.
  4. Hasanuddin harus mengakui bahwa Aru Palaka sebagai Raja Bone.
  5. Gowa tertutup untuk orang asing selain VOC.
  6. Benteng-benteng harus dihancurkan kecuali Benteng Rotterdam.

Kemudian Perjanjian Bongaya tidak lagi berlaku lama dikarenakan Sultan Hasanuddin kembali memimpin rakyatnya dan mengadakan peperangan terhadap Belanda.

serangan yang mengejutkan
yesmuslim.blogspot.com

Pada awalnya, Belanda benar-benar kewalahan menghadapi serangan yang mendadak dari pasukan Sultan Hasanuddin.

Tetapi dengan persenjataannya yang super lengkap, Belanda pun mampu memukul mundur Sultan Hasanuddin.
Sultan Hasanuddin serta rakyat Makassar tidak mampu berkutik saat pertahanannya, yaitu Benteng Sombaopu yang jatuh ke tangan Belanda.

Sultan Hasanuddin kemudian menyerahkan kekuasaan kepada putranya yang bernama Mappasomba. Rakyat yang tidak mau tunduk terhadap Belanda dengan keberaniannya kemudian mengarungi lautan dan mencari daerah baru sambil menyebarkan agama Islam.

Dari sini kita bisa untuk memetik pelajaran bahwa, sebagai sesorang pemimpin kita harus memiliki visi yang luas kedepan serta tidak mudah di pengaruhi oleh orang asing yang bertujuan untuk berperang/berselisih dengan saudara sendiri.

Perjanjian Bongaya ini merupakan sebuah saksi bisu dimana kita di adu domba antara saudara oleh bangsa asing.

Demikian pembahasan kita mengenai Isi Perjanjian Bongaya, jika ada yang kurang paham atau ada yang ingin ditanyakan mengenai perjanian bongaya, silahkan tulis pada form komentar di bawah ini. Semoga bermanfaat sekian dan terimakasih.

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *